Suatu hari
weekend di Balikpapan. A boy and a girl was feeling hungry and decided to go
out together to have something to eat. Are they dating? No. They were just
friends back then. Two people who happened to work in the same company and lived
in the same compound when everyone else are either on the field or on vacation.
So there they went, on a borrowed motorcycle, to one of so many KFC outlets in
Balikpapan. Kenapa KFC? Just because the girl was in the mood for junk food and
the only junk food resto available in Balikpapan that time was: KFC :)
It was one nice
evening. The weather was not too hot or too cold; actually both of them are too
hungry to even think about what was the weather like that day. One thing for
sure, the motorcycle helped them went through the traffic in the city. As they
got there the two of them quickly went to the counter and order the food they
wanted. And get themselves seated in the surprisingly not so full outlet (this
is extraordinary because normally KFC in Balikpapan is ALWAYS full of people at
that time, especially weekend).
As they got
seated and ate, they started to talk and discuss about themselves and what they
want in life. The discussion got deeper, and before they realized it they were
discussing about future life, not together, just the future.
Girl: “Paling
males liat bocah rewel kaya gitu (nunjuk anak kecil rewel lari2 di seberang
ruangan) di restoran. Kaya emak bapaknya gak bisa ngajarin aja. Tar gw kalo
punya anak gw iket deh anaknya ke kursi biar gak ganggu orang”
Boy: “yaaa…tiap
orang kondisi nya beda-beda kali…”
Girl: “Kali…tapi
kalo itu anak gw gak bakalan gw diemin..Anak gw mah bakalan gw ajarin sopan
santun dari kecil, kalo cewe gw ajarin main piano sama balet kalo cowo diajarin
main gitar sama basket. Biar tar pas dah gede gaul dan PD gak di bully sama
anak orang”
Boy: “Kalo aku
sih pengen ngajarin ngaji. Pokoknya mau bisa apa aja terserah yang penting
harus bisa ngaji. Satu lagi, pengen aku sekolahin di sekolah yang bagus. Biar
bisa dapet banyak informasi pendidikan yang bagus, biar gak katro kaya
bapaknya. Hehehe”
Girl: “Okedeh…Nyadar
loh dia katro..haha”
The discussion
went on and on from this to other stuff until the boy asked her how she feels
about relationship.
Girl: “At this
point gw masih gak percaya sama yang namanya committed relationship. Nampak too
good to be true, cuman laku di film2 Hollywood doang tuh”
Boy: “Hahaha…gak
segitunya juga kali. Emang kenapa kamu gak percaya?”
Girl: “Yah…gw
mah terlalu banyak liat contoh yang terjadi disekitar gw aja..banyak banget
orang yang kawin udah bertaun2 awalnya hepi tapi akhirnya malah kawin lagi lah,
cerailah setelah puluhan taun kawin..kalo sekarang gw hepi sama orang, gw tau
darimana nanti dimasa depan setelah gw tua dan jelek itu orang bakalan
ninggalin gw atau gak?”
Boy: “Yaaa…kita
gak akan pernah tau. Aku juga gak tau kok..tapi kan itu gunanya kita berdoa
sama Allah: Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di
jalanMu.. Jadi kalo waktunya ketemu sama orang yang sreg dihati, ya minta sama
Dia. Kalo emang ini jalanNya, ya minta terus hatinya ditetapkan dijalan ini..
Yang kaya gitu mah bukan urusan kita buat mikirin, gak akan cukup gajinya” He
said while showing a very large smile on his face, then continue eating.
The girl was
shocked by his statement. As far as she was concerned, no man has ever given
her this kind of answer before. And yet, he’s just somebody that she knew at
work and not even someone special. They continued eating while discussing about
every other thing and once they finished eating, they went back to their
compounds. He walks her to her staff house, a few meters away from his staff
house and they parted that night. Little did he know, their conversation left a
very deep impression in her memory.
=====================================================================================
Pembicaraan itu
sudah hampir empat tahun lewat. The boy, yang pada saat itu hitungannya hanya
teman kantor, melamar saya dua tahun kemudian. Pembicaraan ini mungkin gak
terlalu dia ingat, tapi membekas dalem banget di memori saya. Dan jadi bahan
pertimbangan banget banget hingga akhirnya saya memutuskan untuk menjadi istrinya.
Belum lama memang
kami menikah. Saya kenal dia juga belum bisa dibilang lama. Tapi dengannya saya
tenang, bahagia, dan merasa dicintai. Manusia ini bisa bimbing saya yang keras
kepala dan punya pride super tinggi untuk berdiskusi dan nurut menjadi
makmumnya. Saya si hobi hura-hura dan doyan belanja bisa diajaknya sedikit
lebih hati-hati dalam urusan uang. Saya yang doyan ngambek bisa dibuatnya
ketawa lagi dengan kelakuan konyolnya. Saya yang punya gengsi selangit sok jadi
perempuan tangguh mandiri endebra endebre bisa lepas topeng didepannya dan
menangis kalo saya merasa lemah dan perlu dukungan. Manusia yang bisa bikin
tidur saya super nyenyak cuma dengan merasakan tangannya dibawah leher saya
waktu tidur. Manusia yang saya cari pertama kali setiap pagi karena dia selalu
bangun lebih pagi. Manusia yang sudah membagi setengah gennya dengan saya untuk
si bayi di dalam perut. Manusia yang hari ini merayakan ulang taunnya…hari
kelahirannya kedunia.
Thank you Allah
for sending him to me and sending me for him…I love him, please take a good
care of my husband and love him wherever he is. Give him strength, health, and
wisdom to carry on leading our family in Your way. And when our steps are not
steady, when our hearts are on the verge of falling apart, please take it back
to Your way, Your path, the ones that You agrees to.
I love you, Agus
Jayadi. Happy Birthday.
Tunis, 21
Agustus 2012.
You are the lucky one, neng.
ReplyDeleteMet ulang tahun agus.... Semoga kalian berdua menjadi pasangan yang berbahagia dunia dan akhirat... :)
ReplyDelete